9.16.2012

KYAI RAJAMALA


Pertama kali melihatnya ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu saya berkunjung ke Museum Radya Pustaka, Solo, ditemani seorang keponakan saya.

Suasana museum yang sepi dan dingin semakin terasa mencekam ketika bau-bau wewangian seolah menguar melewati pintu-pintu dan jendela-jendela yang tinggi, memasuki ruang demi ruang di dalam bangunan museum yang sudah tua. Bulu kuduk saya berdiri demi mengendus bau bunga-bunga itu.

Dengan langkah ragu-ragu dan sedikit takut, saya berjalan ke arah belakang museum. Dan tahulah saya dari mana sumber bau wewangian tadi. Sebuah kembang setaman berada di samping sebuah patung kayu berwujud kepala raksasa. Itulah Canthik Kyai Rajamala.

Canthik Kyai Rajamala adalah kepala perahu milik Pakubuwono IV, yang pada jamannya digunakan untuk menjemput permaisuri Pakubuwono IV yang berasal dari Madura. Konon katanya, perahu itu juga digunakan untuk membagi-bagikan makanan kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang Sungai Bengawan Solo.

Sebenarnya kepala perahu ini ada dua, tetapi yang satunya lagi  disimpan di Keraton Surakarta. Pada hari-hari tertentu patung ini harus diberi sesajen, berupa kembang setaman, yaitu beberapa jenis bunga yang ditaruh di sebuah wadah dari kuningan dan diberi air. Menurut penjaga museum yang saya temui pada saat saya masih SMA dulu, patung itu akan mengeluarkan bau amis, apabila lupa diberi sesajen.

Dan beberapa waktu yang lalu, ketika ada kesempatan berkunjung ke museum itu bersama suami dan kedua putri saya, gantian putri saya yang mengkeret. Thifal tak pernah lepas dari pegangannya pada punggung ayahnya, sambil ngintip-ngintip kepengin melihat juga. Hihihi.

8.15.2012

Nonton TANAH SURGA ... KATANYA



Pengin ngajak anak-anak nonton film ini. Tetapi ternyata mereka sudah punya agenda sendiri, nonton dan bukber bersama teman-temannya. Ya, sudah, gak jadi nonton, deh. Sebagai gantinya, search di Google sinopsis film ini, dan harus puas dengan cerita mereka usai nonton. Huuuft ...

Sinopsis :

Hasyim, mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia Malaysia 1965 hidup dengan kesendiriannya. Setelah istri tercintanya meninggal, ia memutuskan untuk menikah dan tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya yang juga menduda, Haris, dan dua orang anak Haris bernama Salman dan Salina.

Hidup di perbatasan Indonesia Malaysia membuat persoalan tersendiri, karena masih didominasi oleh keterbelakangan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat perbatasan harus berjuang setengah mati untuk mempertahankan hidup mereka, termasuk keluarga Hasyim. Namun kesetiaan dan loyalitasnya pada bangsa dan negara membuat Hasyim bertahan tinggal.

7.26.2012

Liburan, Nonton AMBILKAN BULAN


Liburan tinggal seminggu lagi. Anak-anak sudah pada merengek minta beli tas, karena tas mereka sudah rusak ritsluitingnya.

Jadilah, Minggu sore itu kami bertiga (saya, Thifal dan Hasna) pergi ke Matahari  Singosaren. Anak-anak sudah hapal bagian tas di lantai 3. Tanpa menunggu saya, mereka segera meluncur ke lantai 3. Begitu sampai di ujung tangga escalataor, mata mereka tak berkedip menatap poster film Ambilkan Bulan, yang ternyata memang baru diputar di Studio 2.

“Mau nonton itu?” tanya saya.

“Emang boleh?” Hasna balik bertanya.

“Hasna telepon Bapak dulu, deh. Boleh enggak nonton Ambilkan Bulan?” saran saya.

Segera saja Hasna menghubungi bapaknya, dan detik berikutnya wajahnya sumringah sembari berkata, “Boleh, kata Bapak.”

Jarum jam menunjukkan pukul  11.00 WIB. Kami putuskan untuk menonton yang jam 12.30 WIB.Jadi masih ada waktu 1 jam untuk berburu tas sekolahnya anak-anak.

Satu jam kemudian ....

6.29.2012

Liburan, Nonton BRAVE


Libur telah tiba --- libur telah tiba ... hore hore horeee!!!
Itu penggalan lagunya Tasya, yang masih sering dinyanyikan kalau liburan tiba.

Liburan sekolah kali ini, anak-anak saya sering protes karena tidak bisa liburan ke mana-mana. Maklum, ortunya belum bisa ambil cuti karena tanggung jawab pekerjaan (halah lebay ...).

Sebenarnya kasihan juga, sih, melihat mereka hanya di rumah dan kadang-kadang main ke rumah teman-temannya. Kegiatan mereka hanya nonton TV, ngegame di kompi, inetan, baca buku, dan ... yang jelas seperti mereka bilang ‘membosankan’!

Nah, kemarin sore, sepulang dari rumah temannya, Hasna minta ijin mau nonton film di XXI bareng sama kakaknya dan teman-temannya. Dia tanya film apa saja yang lagi main di XXI? Bersama Thifal, kakaknya, saya bantu cari info di google. Dan akhirnya, diputuskan mereka akan nonton BRAVE.

Brave adalah film animasi yang bercerita tentang seorang putri pemberani bernama Merida. Putri dari pasangan Raja Fergus dan Ratu Elinor ini berbeda dari putri-putri lainnya. Kalau biasanya seorang putri kerajaan itu anggun, berperilaku manis dan hanya diam di istana, Merida ini tomboy sekali! Ia ingin menjadi putri yang tangguh dan pemberani. Hobinya memanah dan berburu. Sayangnya, kedua orang tuanya menentang keinginan itu.

What?! Sang pemberani ditentang? Putri Merida pun berontak! Ia meminta bantuan kepada seorang penyihir yang ditemuinya secara tak sengaja, karena dituntun oleh api roh yang katanya dapat merubah takdir. Bukannya berhasil, ia malah membuat kekacauan di istana yang membahayakan sang putri sendiri. Merida pun harus mempertanggungjawabkan semuanya. Ia harus benar-benar membuktikan keberaniannya untuk mengembalikan keadaan istana yang aman dan damai seperti dulu.

Akankah usaha Putri Merida berhasil? Apakah ia benar-benar seorang putri yang tangguh dan pemberani? Hehehe ... nonton dulu, deh, bareng Hasna, Thifal, dan teman-temannya.