6.11.2012

Dea Dan Kakek Harun

 Nama lengkapnya Dealova, tetapi biasa dipanggil Dea. Ia seorang gadis kecil berusia 9 tahun, dan baru duduk di kelas 4 SD. Dea bukanlah murid yang selalu masuk ranking 10 besar di kelasnya. Tetapi bukan berarti Dea termasuk anak yang bodoh. Ia adalah anak dengan kemampuan sedang-sedang saja. Tetapi hampir semua teman, guru, dan orang-orang di sekitarnya sangat menyukainya, karena Dea adalah anak yang ramah, supel, dan baik hati. Ia sangat perhatian kepada siapa saja. Ia juga tak segan-segan menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Suatu hari, sepulang sekolah, setelah menunaikan sholat Dzuhur, Dea berpamitan pada ibunya untuk membeli es krim di warung Bu Ihsan, yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ketika Dea keluar dari warung Bu Ihsan, ia melihat Kakek Harun sedang duduk di teras rumahnya sambil melambai-lambaikan koran. Mula-mula Dea tidak mengacuhkannya. Tetapi kakek itu kembali melambai-lambaikan koran yang dipegangnya ke arahnya. Dengan ragu-ragu Dea berjalan menuju rumah Kakek Harun.

5.24.2012

KENANGAN



Aku memungut selembar amplop coklat tanggung di dekat kakiku. Amplop itu baru saja terjatuh dari sela tumpukan buku-buku tua di lemari ibuku, ketika aku sedang membereskan semua benda milik beliau. Buku-buku catatan pemasukan dan pengeluaran sehari-hari keluarga kami. Catatan dari ketika aku masih belum lahir sampai terakhir sekitar setahun yang lalu, ketika aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak. Ya, ibuku memang rajin mencatat semua pengeluarannya dengan rapi, tidak seperti aku. Entahlah, bagaimana ibuku bisa begitu telaten membuat pembukuan seperti itu. Dulu, ketika aku pertama kali indekos, ibu sering mengajariku membuat catatan pengeluaran seperti itu. Awalnya aku rajin sekali mencatat pengeluaran-pengeluaranku. Tetapi lama kelamaan aku menjadi malas, karena menurutku terlalu ribet, dan akhirnya buku catatan itu hanya mangkrak di rak buku diselimuti debu.
Segera saja kukeluarkan seluruh isi amplop itu. Beberapa lembar foto hitam putih, tampak masih awet gambarnya. Masih cemerlang. Hanya di bagian warna putihnya tampak agak menguning dimakan usia. Aku meneliti satu per satu wajah-wajah yang ada dalam foto tersebut. Hampir aku tidak mengenalinya, tetapi lamat-lamat tampaknya aku mulai mengingatnya. Ada fotoku sendiri ketika masih kecil, mungkin waktu aku masih sekitaran kelas 3 atau 4 SD, aku tidak ingat persis.